Taufan Agung Ginting: PDI Perjuangan Menjaga Garis Ideologi di Tengah Pergeseran Politik Nasional

banner 120x600
banner 468x60

MEDAN, — Di tengah politik nasional yang kian cair, penuh spekulasi, dan mudah bergeser mengikuti arus kekuasaan, PDI Perjuangan memilih tetap berdiri di tempat yang sama pada ideologi, sejarah, dan keberpihakan kepada rakyat.

Sikap itu ditegaskan tokoh senior PDI Perjuangan Sumatera Utara, Ir Taufan Agung Ginting, menjelang peringatan Hari Ulang Tahun ke-53 partai berlambang banteng tersebut, Sabtu (10/12026).

banner 336x280

“PDI Perjuangan bukan partai musiman yang hidup karena figur atau momentum. PDI Perjuangan lahir dari pergulatan sejarah dan ditempa oleh pengorbanan,” jelas Taufan Agung Ginting mantan Sekretaris DPD PDI Perjuangan Sumut.

Taufan Agung Ginting yang biasa dipanggil Taufan ini menjelaskan, daya tahan partai justru terletak pada watak ideologisnya.

Sejak fusi partai tahun 1973, peristiwa Kudatuli 27 Juli 1996, hingga era reformasi, PDI Perjuangan berkali-kali diuji oleh tekanan kekuasaan.

Namun justru dari situ karakter politiknya terbentuk keras pada prinsip, lentur dalam strategi.

“Di usia 53 tahun, PDI Perjuangan bukan sekadar mesin elektoral. Ia adalah gerakan ideologi rakyat,” ujar Taufan yang tiga periode jadi anggota DPRD Provinsi Sumut.

Taufan menekankan, akar ideologis partai bersumber dari Pancasila 1 Juni 1945 yang digagas Bung Karno.

Dari sanalah watak keberpihakan pada kaum Marhaen, wong cilik, dan kedaulatan rakyat bertumbuh.

Itulah yang, menurut dia, membuat PDI Perjuangan tetap relevan di tengah perubahan lanskap politik.

“Sejak awal, PDI Perjuangan adalah rumah besar kaum Marhaen. Bukan kendaraan kekuasaan, tapi alat perjuangan untuk keadilan sosial,” jelas Taufan yang cukup berperan terbentuknya PDI menjadi PDI Perjuangan Sumut tahun 1999.

Ia juga menepis anggapan bahwa kekuatan partai bertumpu pada satu figur. Bagi Taufan, daya hidup PDI Perjuangan justru terletak pada militansi kader dan kepemimpinan kolektif di bawah Megawati Soekarnoputri.

“Jangan sekali-kali melupakan sejarah. Tanpa reformasi, tak mungkin anak petani bisa menjadi bupati, atau tukang kayu menjadi presiden,” ujarnya.

Taufan menunjuk kemenangan PDI Perjuangan dalam pemilu legislatif sejak 1999 hingga 2024 sebagai bukti konkret bahwa partai ini tetap dipercaya rakyat.

Karena itu, menurut dia, konsolidasi organisasi dan regenerasi kader harus terus diperkuat, terutama untuk menjaga kesatuan ideologi antara pusat dan daerah.

“Konferensi daerah dan konferensi cabang tidak boleh sekadar formalitas. Tidak boleh ada faksi, tidak boleh ada kubu. Kader harus satu barisan, patuh pada garis perjuangan. Satyam Eva Jayate pada akhirnya kebenaranlah yang akan menang,” tegas Taufan.

Ia menambahkan, ideologi kerakyatan PDI Perjuangan bukan berhenti pada slogan. Dalam situasi konkret, partai menunjukkan watak praksisnya.

Saat bencana melanda sejumlah wilayah, termasuk Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh, PDI Perjuangan, kata Taufan, bergerak lebih dulu mengirim Kapal Malahayati sebagai rumah sakit apung, menyalurkan logistik, ambulans, hingga mengerahkan tim medis kader partai.

“Ibu Megawati tidak banyak bicara. Perintahnya sederhana: bantu rakyat. Di situlah roh sejati PDI Perjuangan nilai kemanusiaan yang melampaui kalkulasi politik,” ujar Taufan. (Rus)

banner 336x280