MEDAN, INDAK.ID — PT Wika yang mendapat proyek pengerjaan Pembangunan Bendungan Lau Simeimei yang berskala Proyek Strategis Nasional (PSN) yang menelan biaya sebesar Rp 1,65 Triliyun dan mencakup areal seluas 250 hektar terletak di 4 Desa di Kecamatan Sibiru-biru Kabupaten Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara meninggalkan penderitaan bagi masyarakat desa yang dilintasi oleh truk-truk pembawa bahan material untuk pembangunan Bendungan Lau Simeimei tersebut.
Pembangunan Bendungan Lau Simeimei yang rencananya akan memenuhi air minum warga kota Medan dan sebagai pembangkit listrik untuk kota Medan ini hampir selesai.
Truk beroda sepuluh dengan berat beban 45 ton dan rata-rata setiap hari mencapai 100 truk, melintasi 4 desa, yaitu desa Tembengen, desa Periaria, desa Penen, dan desa Sarilaba.
Demikian hal ini disampaikan anggota DPRD Kabupaten Deli Serdang Timur Sitepu kepada wartawan Jumat (30/8/24) usai meninjau lokasi rumah yang rusak minggu lalu. Timur Sitepu menjelaskan kepada wartawan menanggapi keluhan beberapa warga yang terdampak akibat pembangunan Bendungan Lau Simeimei tersebut.
“Mestinya pembangunan itu adalah untuk mensejahterakan rakyat, bukan malah menyengsarakan rakyat” jelas Timur Sitepu yang mengaku sangat kecewa atas tindakan PT Wika ini,” tegasnya.
Sementara Idris Ismail Sitepu, satu diantara pemilik rumah yang rusak akibat pembangunan Bendungan Lau Simeimei ini menjelaskan kepada anggota DPRD Fraksi PDI Perjuangan Kabupaten Deli Serdang Timur Sitepu, agar bisa membantu menyampaikan kepada PT Wika sebagai kontraktor.
Idris menjelaskan, perihal keluhan warga 4 desa yang dilintasi oleh truk untuk memenuhi bahan bangunan untuk pembangunan Bendungan Lau Simeimei ini.
Lebih jauh dijelaskan Idris Ismail Sitepu yang biasa dipanggil Idris ini, pihaknya sudah menyampaikan berkali-kali kepada PT Wika perihal rumah yang retak-retak akibat dilalui truk seberat 45 ton yang hampir 100 truk setiap hari.
Idris menjelaskan, tentang dampak yang terjadi pada saat PT Wika mengerjakan peroyek pembangunan Bendungan Lau Simemei.
“Semenjak PT Wika mengoperasikan armada truk roda 10 untuk mengangkut batu dan material yang di ambil dari desa Mardinding dan di bawa lewat jalan umum tepatnya dari depan rumah saya dengan muatan truk lebih dari 35 ton per satu unit setiap lewat dengan jumlah armada lebih dari seratus unit setiap hari. Banyak rumah warga yang rusak dan retak-retak,” ujarnya.
“Semua itu, akibat getaran mobil berat ini yang setiap hari lewat jalan umum depan rumah kami, maka tembok dinding rumah kami jadi rusak parah dan retak-retak tembok rumah. Ini sudah muat tangan dan pergelangan tangan pun di masukkan ke dalam retak tembok sudah bisa” tutur Idris didampingi Ramseng Barus dan beberapa warga yang rumahnya ikut rusak, seperti, Ratusanta Tarigan, Riska Ginting, Pinsensius Sembiring, Ribuanta Tarigan, Pengarapen Tarigan, Mertuanta Sitepu dan Surdanau Kaban.
Dikatakan Idris, kejadian ini bukan hanya pada rumah kami saja, akan tetapi setiap kampung yang rumahnya dipinggir jalan umum yang di lalui mobil berat ini banyak rumah yang mengalami hal yang sama seperti rumah kami ini.
“Ketika kami bertanya kepada pegawai PT Wika di kantor lokasi proyek seperti pak Ganda, pak Sudirman, pak IOS dan pak Edi, mengatakan dalam pengerjaan peroyek strategis nasional seperti ini tidak ada dana dampak lingkungan dan tidak ada dana kompensasi” jelas Idris menirukan ucapan para petugas dari PT Wika.
Sekarang ini kami bingung, tambah Idris dan warga lain yang ikutan bingung. Kami bertanya mengapa kok tidak ada dana dampak lingkungan padahal proyek ini berskala nasional.
“Kok tidak ada dana untuk dampak lingkungan sementara mengundang aparat keamanan seperti tentara, Polisi Brimob yang jumlah personilnya lebih dari seratus orang di setiap kampung ada, bahkan mereka bikin posko disini berbulan-bulan seolah-olah disini daerah konplik dan itu menakut-nakuti warga saja,” jelas Idris seraya menambahkan padahal di sini sangat aman dan tidak ada gangguan apa pun dalam pengerjaan peroyek Bendungan Lau Simemei ini.
Idris menjelaskan bahwa masyarakat daerah sini sangat mendukung peroyek ini di bangun pemerintah. “Akan tetapi pihak pengelola proyek ini tidak menghiraukan keluhan yang ada terjadi pada masyarakat akibat dampak lingkungan peroyek ini” jelas Idris mengeluh.
Saat dikonfirmasi ke Kantor Pusat Wika di Jln DI Panjaitan Jakarta Timur Jumat (30/8/24), tidak berhasil. Pihak PT Wika tidak bersedia untuk dikonfirmasi. “Kalau mau bertemu dengan Direktur yang menangani permasalahan, silahkan buatkan dulu surat permohonan untuk bertemu” jelas Dika petugas resepsionis usai menerima telepon dari atasannya. (IA/Rus)

















