Oleh: Nano Hendi Hartono, wartawan senior
Arus mudik setiap Lebaran selalu menghadirkan wajah optimisme. Jalanan padat, terminal penuh, pusat perbelanjaan ramai. Dari luar, denyut ekonomi tampak hidup. Perputaran uang meningkat, konsumsi melonjak, dan geliat usaha kecil terlihat bergerak. Namun di balik itu, tersimpan cerita yang tidak selalu seindah angka-angka musiman.
Di sebuah kampung di pinggiran kota, seorang buruh harian bernama Rudi memilih tetap pulang ke kampung halaman meski harus meminjam uang. Baginya, Lebaran bukan hanya soal perayaan, tetapi tentang menjaga hubungan keluarga. Ia tahu konsekuensinya: setelah kembali ke kota, ia harus bekerja lebih keras untuk menutup utang yang terpaksa diambil.
Cerita seperti Rudi bukan hal langka. Banyak masyarakat menghadapi dilema serupa. Tradisi sosial dan tekanan kultural sering kali lebih kuat daripada pertimbangan ekonomi rasional. Lebaran menjadi momentum yang “harus” dijalani dengan layak, meski kondisi keuangan tidak mendukung.
Fenomena ini menunjukkan bahwa peningkatan konsumsi saat Lebaran tidak sepenuhnya mencerminkan kekuatan daya beli yang sesungguhnya. Ada dorongan emosional, ada beban sosial, dan ada pula strategi bertahan hidup jangka pendek yang dipaksakan. Konsumsi meningkat, tetapi bukan berarti kesejahteraan ikut naik.
Setelah Lebaran usai, realitas kembali terasa. Banyak keluarga masuk dalam siklus “gali lubang tutup lubang”. Pendapatan tetap, bahkan cenderung stagnan, sementara pengeluaran terus meningkat. Harga kebutuhan pokok yang tidak stabil, biaya pendidikan, serta kebutuhan sehari-hari membuat ruang fiskal rumah tangga semakin sempit.
Kelesuan ekonomi ini tidak selalu tampak dalam statistik makro. Pertumbuhan ekonomi bisa saja terlihat stabil, inflasi terkendali, dan investasi tetap berjalan. Namun di tingkat akar rumput, masyarakat merasakan tekanan yang berbeda. Daya beli melemah secara perlahan, bukan karena tidak ada uang sama sekali, tetapi karena uang yang ada semakin tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup yang layak.
Di pasar tradisional, pedagang mulai merasakan perubahan perilaku konsumen. Pembeli lebih berhitung, mengurangi jumlah belanja, bahkan menunda pembelian barang yang dianggap tidak mendesak. Di sektor informal, pendapatan harian semakin tidak pasti. Sementara di kalangan pekerja formal, kenaikan gaji sering kali tidak mampu mengejar laju kenaikan biaya hidup.
Kondisi ini menciptakan ketimpangan persepsi antara “ramai sesaat” dan “lesu berkepanjangan”. Momentum Lebaran hanya menjadi jeda singkat dari tekanan ekonomi yang lebih dalam. Setelah itu, masyarakat kembali berhadapan dengan realitas yang sama—bahkan lebih berat karena adanya beban tambahan.
Dalam situasi seperti ini, diperlukan kebijakan yang lebih berpihak pada penguatan daya beli secara nyata. Tidak hanya melalui bantuan sosial yang bersifat sementara, tetapi juga lewat penciptaan lapangan kerja yang stabil, pengendalian harga kebutuhan pokok, serta perlindungan terhadap kelompok rentan.
Ekonomi tidak hanya soal angka, tetapi tentang manusia di dalamnya. Tentang Rudi dan jutaan orang lain yang berusaha bertahan di tengah tekanan hidup. Selama daya beli belum benar-benar pulih, kelesuan ekonomi akan terus menjadi bayang-bayang yang mengikuti, bahkan di tengah kemeriahan hari raya.















