Pramono Anung Dianugerahi Marga Sebayang oleh Komunitas Karo

banner 120x600
banner 468x60

JAKARTA,— Dalam sebuah prosesi budaya yang penuh makna dan kehangatan, Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, resmi dianugerahi ‘marga Sebayang’ oleh masyarakat Karo dalam acara bertajuk Mburo Ate Tedeh yang digelar di Ballroom Tjut Nyak Dien, Buperta Jambore Cibubur, Jakarta Timur Minggu (16/11/25).

Penganugerahan ini menandai penerimaan Gubernur Pramono Anung Wibowo yang didampingi ibu Endang Nugrahani sebagai bagian dari keluarga besar masyarakat Karo. Sebuah kehormatan yang disambutnya dengan penuh rasa syukur.

banner 336x280

Dalam sambutannya, Pramono menyatakan bahwa ia kini memperkenalkan diri sebagai Pramono Anung Wibowo Sebayang, sebagai bentuk penghormatan dan komitmen terhadap nilai-nilai luhur masyarakat Karo.

“Saya merasa seperti berada di rumah sendiri. Ini bukan sekadar simbol, tetapi ikatan hati dan tanggung jawab. Saya berjanji tidak akan mengecewakan Bapak dan Ibu sekalian,” ujar Pramono yang disambut meriah dengan tepuk tangan para hadirin.

Gubernur Pramono juga menyoroti karakter masyarakat Karo yang dikenal terbuka, pekerja keras, jujur, dan menjunjung tinggi kehormatan. Ia menilai nilai-nilai tersebut sangat relevan dalam membangun Jakarta sebagai kota yang inklusif dan harmonis.

Dalam kesempatan tersebut, Pramono mengapresiasi falsafah ‘Rakut Sitelu’, yang menekankan kesetiaan, solidaritas, dan persaudaraan sebagai fondasi kehidupan masyarakat Karo. Ia menyebut bahwa nilai-nilai ini akan menjadi pedoman dalam menjalankan amanah sebagai pemimpin ibu kota.

Penganugerahan marga Sebayang juga menjadi momentum bagi Gubernur Pramono untuk menyampaikan penghargaan atas kontribusi masyarakat Karo dalam pembangunan Jakarta. Ia menyebut masyarakat Karo sebagai bagian penting dari ekosistem sosial, ekonomi, dan kebudayaan kota.

“Salah satu kelebihan masyarakat Karo adalah keterbukaan untuk bisa menerima siapa saja. Tidak pernah dalam sejarah Karo persoalan intoleransi itu ada. Karena di Karo itu mau agama Islam, Kristen dan lain-lain silahkan selama menjunjung tinggi adat-istiadat Karo,” jelasnya.

Apa yang disampaikan oleh Gubernur Pramono Anung bahwasanya masyarakat Karo sangat tinggi bertoleransi, terbukti didalam satu rumah tangga bisa menganut dua agama yaitu, Kristen, Islam atau Islam Katholik bahkan banyak masyarakat Karo yang beragaman Hindu.

Ditegaskan Pramono, sekarang dirinya menjadi Pramono Anung Sebayang.
“Semoga kehormatan ini akan membuat warga Karo yang di Jakarta merasa memiliki pemerintahan yang saya pimpin” jelas Pramono bangga.

Sekretaris Umum Ginargar Raja Lambing Sebayang Mergana (GRLSM) DR.IR.Juli Edi Sebayang,M.Si mengatakan sebelum mengadakan hiburan ‘Gendang MburoAte Tedeh’ acara didahului dengan Diskusi Panel Peradatan yan merupakan kegiatan diskusi dan kajian terhadap budaya dan adat-istiadat Karo yang perlu dilestarikan dan diperkenalkan kepada masyarakat Indonesia dan khususnya kepada masyarakat Karo yang ada diperantaun yang membahas tentang perkembangan ‘nereh empo ras sangkep enggeluhna’ (adat perkawinan dan kerabat kerjanya) yang terus berkembang sesuai dengan zamannya sebagai salah satu budaya pemersatu untuk terciptanya persaudaraan.

Acara ini dihadiri oleh Bupati Karo Brigjen Pol (Pur) DR.dr.Antonius Ginting,Sp.OG,M.Kes, Direktur RSCM Dr.Supriyanto Dharmoredjo serta tokoh-tokoh masyarakat Karo seperti, pemuka adat, serta warga Karo dari berbagai wilayah Jakarta dan sekitarnya.
Suasana penuh kehangatan dan kebersamaan menjadi bukti kuat akan eratnya hubungan antara pemimpin daerah dan komunitas lokal. (Rus)

banner 336x280